Rahasia Kekuatan Do’a

Insya Allah kami akan membahas berkaitan “Do’A dan kekuatannya.” Do’A tersebut punya energi yang dashyat. namun umat Islam zaman sekarang layaknya bukan peduli bersama daya do’a. Kami memirsa umat muslim zaman sekarang sporadis berdo’a kepada Allah. Tidak benar satu alasannya adalah gara-gara kesesatan yang tersebar, dimana mereka berdo’a kepada tak hanya Allah.

Juga sebab teknologi telah amat maju agar kami begitu bergantung kepadanya, bergantung terhadap mesin-mesin canggih, bergantung kepada dokter, fisikawan, dan lain-lain, agar membawa dampak kami lupa perihal energi do’a.

Juga dikarenakan umat muslim benar-benar sibuk bersama kehidupan sehari-hari. Terkadang mereka kudu bekerja seminggu penuh, lantas bermain di pas luang bersama dengan hobi mereka, menghabiskan kala bersama dengan anak-anak, keluarga, dan kerabat, menjadi mereka bukan miliki pas untuk berdo’a. 

Contohnya pas shalat, kami mampu menonton mereka terburu-buru mengerjakannya, dan karena itu mereka juga terburu-buru ketika berdo’a kepada Allah. Kami saksikan umat muslim di zaman ini begitu cepat sujudnya lantas mereka segera berdiri. Padahal ketika sujud adalah sementara paling baik untuk berdo’a kepada Allah, dikarenakan kau tengah berada di daerah terendah, bersama dengan kepala dan hidungmu menyentuh sajadah, dan pas tersebut kau mengucapkan Subhana rabbiyal a’la yang signifikan “Maha Kudus Engkau, Allah Yang Maha Tinggi.” Ketika kau bersujud, maka Tuhan mendengarkan permohonanmu.

Menjadi inilah alasan mengapa orang-orang bukan ulang peduli bersama dengan do’a. Namun terlepas berasal dari tersebut seluruh, do’a adalah suatu obat untuk menyembuhkan segala penyakit dan duka. Do’A adalah senjata bagi orang-orang beriman. Rasulullah S.A.W. bersabda “Do’A merupakan pondasi agama Islam dan merupakan cahaya langit dan bumi.”

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Tidakkah anda menyimak bahwa sesungguhnya kapal tersebut berlayar di bahari bersama dengan ni’mat Allah, sehingga diperlihatkan-nya kepadamu sebahagian berasal dari tanda-tanda (Kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya terhadap yang demikian tersebut sahih-sahih terdapat tanda-tanda bagi seluruh orang yang amat sabar ulang tak terhitung bersyukur. Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar layaknya gunung, mereka menyeru Allah bersama memurnikan ketaatan kepada-nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka hingga di daratan, lalu lebih dari satu mereka konsisten menempuh jalan yang lurus. Dan bukan tersedia yang mengingkari ayat-ayat Kita tidak cuman orang-orang yang bukan setia ulang ingkar.” (Q.S. Luqman:31-32)

Menjadi ayat ini bisa diaplikasikan kepada kami seluruh, gara-gara kami seharusnya sabar dan bersyukur. Kapal yang berlayar di bahari diumpamakan layaknya kami yang mengembara di muka bumi didalam aktivitas hidup kami masing-masing, ketika situasi baik-baik saja dan kami merasa suka.  Tetapi sesudah itu ketika kami menemui kesulitan dam cobaan, lantas kami berdo’a terhadap Allah dan meminta-nya sehingga menyelamatkan kami berasal dari hal-hal tersebut.

Menjadi ayat ini merupakan suatu pesan bagi kami supaya bersyukur dan berdo’a kepada-nya bersama dengan tulus sepanjang pas, bukan semata-mata ketika kami tengah butuh.

Sebagian orang tersedia yang berdo’a kepada Allah hanyalah ketika tengah butuh. Namun sesudah itu mereka kehilangan asa dan berkata “Aku berdo’a kepada Allah namun jawabannya ditunda” atau “Allah bukan menjawab do’aku.” Ini tidak contoh orang-orang yang bersabar dan bersyukur. Ini contoh orang-orang yang berpikir bahwa dia lebih mengerti daripada Allah. Kemungkinan orang tersebut bukan paham berkaitan konsekuensi yang barangkali berlangsung kalau Allah mengabulkan do’anya pas tersebut. Allah lebih tahu.

Terkadang suatu do’a ditunda dikarenakan belum saatnya kau meraih apa yang kau dambakan. Allah Azza wa Jalla selalu menjagamu, Dia mengidamkan yang paling baik untukmu, Dia bukan menghendaki hal buruk menimpamu. Tetapi kami adalah orang-orang yang bukan sabar. Kami layaknya anak yang tengah demam namun malah meminta es krim.

Pelajaran pertama yang wajib kami ambil adalah, ketika kami berdo’a terhadap Allah, teruslah berdo’a dan jangan dulu berhenti, jangan dulu mengatakan “Do’Aku belum dijawab” atau “Do’Aku ditunda”, namun katakanlah “Do’Aku akan dijawab terhadap sementara yang paling baik untukku.”
Ketika kami berdo’a, kami mesti mengakibatkan diri kami jadi seorang hamba Allah yang sejati. Betapapun rendah hatinya sikap seorang budak di global ini kepada tuannya, kami kudu jauh lebih rendah hati di hadapan Allah dibandingkan budak tadi. Menjadi pertama, buatlah diri kami sebagai hamba Allah lantas angkat tanganmu dan berdo’a kepada Allah.&Nbsp;

Hal lain yang bukan boleh kami katakan adalah “Do’A kami bukan dijawab dikarenakan dosa-dosa yang konsisten-menerus kami melakukan.” Ketika kami bukan taat terhadap Allah, kami jalankan riba, makan makanan yang haram, penghasilan yang haram, dan sebagainya, maka do’a kami bukan akan dikabulkan. Tetapi kecuali kau sungguh-sungguh bertaubat atas dosa-dosamu, lantas kau berdo’a tetapi do’amu bukan segera dijawab layaknya yang kami dambakan, maka kami bukan seharusnya berkata bahwa do’anya bukan dijawab sebab dosa-dosa kami.
Dan ini wajib kami pahami sebab berlimpah kesalahpahaman di antara orang-orang berkenaan do’a. Mereka memakai pernyataan para salaf, “Bagaimana kemungkinan do’a orang tersebut akan dijawab ketika penghasilan mereka haram, sandang mereka haram, makanan mereka haram, dan sebagainya?” Namun mereka keliru mengaplikasikan. Mereka mengaplikasikan terhadap seluruh orang  berdosa yang bukan menaati Allah. Namun kami memahami berdasarkan hadist benar dan pemahaman para ulama, kalau kau lakukan istighfar dan bertaubat bersama sungguh-sungguh, lantas kau menutupi kesalahanmu bersama amal baik, setelahnya kau berdo’a, maka do’amu akan dikabulkan. Allah bukan dulu mendzalimi, Dia-Lah hakim Yang Paripurna dan dia Maha Adil. Dan semakin kami menumbuhkan ketakwaan di dalam kehidupan kami, maka kami semakin memiliki kemampuan untuk berdo’a.

Aisyah R.A. berkata bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda “Do’A berfaedah bagi hal-hal yang sudah berlangsung dan dia berguna bagi hal-hal yang belum berlangsung, gara-gara sesungguhnya ketika cobaan berkunjung dan suatu do’a bertemu dengannya, maka keduanya akan konsisten-menerus berusaha saling mengalahkan satu mirip lain sampai hari kiamat.”

Ketika kau berdo’a kepada Allah, maka mohonlah jangan hingga kelakuan buruk di era lalu mencegahmu untuk jalankan hal baik di jaman depan atau membahayakanmu di jaman depan. Itulah bagaimana do’a berguna bagi jaman lalu.

Dan dia juga berfaedah bagi hal-hal di era depan yang belum berlangsung. Allah Azza wa Jalla bisa saja udah menentukan musibah yang akan menimpamu di jaman depan. Namun sebab do’amu “Ya Allah jagalah penglihatanku berasal dari segala penjuru dan selamatkan aku berasal dari musibah yang sudah ditakdirkan untukku.” Maka do’a tersebut akan naik dan bertarung bersama dengan musibah tersebut sampai hari kiamat. Menjadi Allah menyelamatkanmu berasal dari musibah tersebut.

Di dalam surat Al-Baqarah, Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (Jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-ku, maka hendaklah mereka tersebut mencukupi (Segala perintah-ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-ku, supaya mereka selalu berada di dalam kebenaran. &Nbsp;(Q.S. Al-Baqarah:186)
Menjadi kami perlu patuh dan beriman kepada Allah supaya do’a kami dikabulkan. Terkecuali kami mencukupi kedua persyaratan ini, maka Insya Allah kau akan ditunjuki jalan yang sahih dan do’a kami akan dikabulkan.

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’Alah kepada-ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri berasal dari menyembah-ku akan masuk neraka Jahannam didalam situasi hina dina.” (Q.S. Al Mu’Min:60)
Tetapi berapa segudang berasal dari kami yang mau meluangkan saat dan berdo’a kepada Allah? Kami amat bergantung bersama dengan teknologi dan para pakar. Ketika kami mendapat persoalan, maka kami meminta kepada teman kami. Kami sudah lupa terhadap Allah yang punya kunci untuk merampungkan seluruh permasalahan kami. Dia lebih dekat kepada kami daripada urat nadi kami sendiri.
Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “Bukan tersedia yang lebih mulia di dalam pandangan Allah tak hanya do’a.” Allah Azza wa Jalla mencintai hamba-nya yang meminta kepada-nya. Kenapa? Dikarenakan Dia berfirman “Lihatlah hamba-ku. Dia jelas bahwa bukan tersedia siapapun yang bisa menolongnya, jikalau Aku.” Malah kalau kami bukan memohon kepada-nya, Dia jadi marah dan mengancam kami bersama barah neraka. “Mereka yang merasa bukan harus beribadah terhadap-ku, maka akan dimasukkan ke di dalam neraka.” Layaknya yang disabdakan Nabi S.A.W. bahwa do’a adalah ibadah.

Menjadi yang kudu kami melakukan adalah studi bagaimana cara berdo’a dan kapan waktunya. Rasulullah S.A.W. bersabda “Allah tersebut Maha Pemurah, ketika hamba-hamba-nya berdo’a kepada-nya, maka Allah malu untuk mengembalikan doanya didalam kehampaan (Bukan dijawab).” Subhanallah. Inilah mengapa Rasulullah S.A.W. bersabda didalam hadis qudsi lainnya “Aku layaknya apa yang hamba-ku persangkakan.” Menjadi kalian wajib berbaik sangka kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan do’amu, Dia malu untuk mengembalikan do’amu didalam kehampaan, dan Dia menyukai ketika kau berdoa kepada-nya. Tetapi kecuali kau berprasangka buruk terhadap Tuhanmu “Aku sangat tak terhitung dosa, Dia bukan akan menjawab do’aku.” Maka Allah bukan akan mengabulkan do’amu

Nabi S.A.W. bersabda

“Jikalau seluruh orang di global mengangkat tangan mereka dan memohon kepada Allah untuk ampunan-nya, maka Dia akan mengampuni seluruh orang di global. Ini bukan akan menghilangkan kasih sayang-nya di dalam memberi, seperti suatu jarum bukan akan mengangkat air bahari kecuali dia dicelupkan ke didalam lautan.

Berapa berlimpah air bahari yang akan menetes kalau suatu jarum dicelupkan di air bahari? Bukan tersedia yang menetes. Itulah betapa pemurahnya Allah dan Dia selalu siap untuk memberi. Dia-Lah Raja berasal dari segala raja yang menguasai segalanya.

Dia mengajarkan kami untuk mengucapkan sebanyak 17 kali di dalam shalat fardhu, yaitu “Iyya kana’ buduwaiya kanastain” yang vital “Hanyalah Engkau yang kita sembah dan semata-mata kepada Engkau kita memohon pemberian.” Sebab kami sebagai muslim bukan butuh siapapun kembali. Dan Nabi S.A.W. juga bersabda didalam hadist lainnya dimana Allah S.W.T. berfirman “Biarkan hamba-hamba-ku sadar bahwa Aku miliki kekuasaan untuk mengabulkan permohonan hamba-hamba-ku.”

Tetapi berapa tak terhitung orang-orang yang udah bersusah payah berdo’a tetapi bukan kunjung dikabulkan. Terkecuali kau mengalami hal ini, maka masalahnya berada didalam ibadah dan ketakwaanmu kepada Allah. Inilah mengapa kau bukan diberikan kemampuan untuk berdo’a. Dikarenakan aku memahami berasal dari pengalamanku sendiri, ketika imanmu melemah dan kau lebih memprioritaskan kepentingan duniawi daripada agamamu, maka Allah bukan akan mendengarkan do’amu.

Tetapi lantas terkecuali kau memperbaharui iman dan ketakwaanmu, sesudah itu kau bertaubat sebab sudah lalai, kau berjihad melawan nafsumu, dan kau menambah ibadahmu, maka Insya Allah kemampuan kami untuk berdo’a akan dikembalikan.

Menjadi kapan paling akhir kali kami meminta kepada Allah “Ya Allah, jadikanlah hatiku bahagia ketika beribadah kepada-mu melebihi apapun di global ini.” Terkecuali kami berdo’a layaknya tersebut bersama dengan tulus, maka Allah Azza wa Jalla akan menjawab do’a tersebut supaya akan terhubung jalan bagi do’a kami.

Kau jelas kisah perihal Nabi Yunus A.S. di di dalam perut ikan paus? Dia menaiki suatu kapal bahari dan berlayar menjauh meninggalkan kaumnya. Dia meninggalkan kewajibannya untuk berdakwah sebab kesukaran yang dihadapinya. Lantas orang-orang di kapal tersebut membuangnya ke bahari dan dia ditelan ikan paus. Di dalam kegelapan, dia mengingat Allah dan mengucapkan “Subhanaka inni kuntum minad dzalimin, Maha Kudus Allah dan aku adalah orang yang dzalim.” Dia mengerti udah jalankan kesalahan, dan dia meminta Allah untuk mengampuninya.

Dan kecuali tidak sebab do’a tersebut, maka dia bukan akan dikeluarkan berasal dari perut ikan paus. Menjadi gara-gara dia berdo’a bersama dengan begitu tulus dan sungguh-sungguh, maka dia diselamatkan Allah berasal dari didalam perut ikan paus. Makin tulus sebuah do’a, maka makin kuat do’a tersebut.

Menjadi bagaimana caranya sehingga do’a kami tulus? Do’A tersebut perlu mampir berasal dari hati. Do’A tersebut perlu dilandasi bersama dengan jiwa, pikiran, dan hati secara seiring. Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “Sesungguhnya Allah bukan mendengarkan hati yang bukan mempunyai keinginan.” Dia bukan akan mendengarkan do’a dimana hati bukan hadir. Dia semata-mata mendengarkan do’a ketika hati tersedia disana, jiwa tersedia disana, dan juga pikiran tersedia disana, yaitu do’a yang kadang disertai air mata atau emosi. Ketika kami berdo’a, sebenarnya kami tengah beribadah kepada Allah. Layaknya yang disabdakan Rasulullah S.A.W. bahwasanya do’a adalah ibadah.

Tersedia suatu kisah mengenai orang-orang yang terjebak di dalam gua, dimana tiga orang tengah berkelana dan mereka memasuki suatu gua untuk beristirahat. Tiba-Tiba, mulut gua tersebut tertutup oleh suatu batu besar. Menjadi mereka terjebak di di dalam gua ini.
Sesudah itu, keliru satu berasal dari tiga orang tersebut berkata “Pikirkanlah amal baik yang dulu kau jalankan dan mohonlah kepada Allah lewat amal baik tersebut supaya Dia memindahkan batunya agar kami mampu keluar.”

Menjadi orang pertama mengangkat tangan dan berdo’a “Ya Allah, aku berbisnis dimana aku mempekerjakan segudang orang dan aku menggaji mereka secara berkala. Tidak benar satu karyawanku mengundurkan diri tanpa terima gajinya. Aku mengenakan uang tersebut untuk membeli lebih berlimpah fauna-fauna ternak. Sesudah itu bisnisku semakin tumbuh. Sesudah sebagian lama, dia ulang dan meminta uang gajinya. Menjadi aku memberi tambahan semua hasil berasal dari uangnya. Dan orang ini mengambil semuanya agar aku bukan menyisakan apa-apa untukku. Ya Allah, kalau aku lakukan ini untuk-mu, maka aku memohon kepada-mu untuk terhubung mulut gua ini, pindahkanlah batunya supaya kita mampu keluar.” Sesudah lebih dari satu sementara, batu tersebut bergeser sedikit namun bukan lumayan untuk mereka keluar.

Menjadi orang kedua mengangkat tangannya dan berkata “Ya Allah, aku miliki seorang sepupu perempuan yang benar-benar kucintai. Sebuah hari sepupu perempuanku tersebut mampir untuk gara-gara tengah butuh uang. Menjadi aku berkata “Aku akan mengimbuhkan uangnya kalau kau mau tidur bersamaku.” Dia bukan segera mengiyakannya, namun terhadap kelanjutannya dia mau gara-gara tengah benar-benar membutuhkan uang. Namun ketika aku duduk di antara kedua pahanya, sesudah itu aku ingat Allah dan sesudah itu dia berkata “Wahai Abdullah, takutlah terhadap Allah.” Dan ketika dia mengatakan ini, maka aku menjauh darinya. Ya Allah, jikalau aku laksanakan ini dikarenakan-mu dan memberi tambahan uang tanpa menyakitinya, maka tolonglah pindahkan batu tersebut sedikit.” Maka Allah S.W.T. menggerakkan batunya dikarenakan ketulusan do’a tersebut, namun masih bukan memadai untuk ketiga orang tersebut keluar.

Orang ketiga memirsa batu tersebut bergerak, menjadi dia mengangkat tangannya dan berkata “Ya Allah, aku punya kedua orangtua yang udah tua renta. Dan tiap tiap malam ketika aku sepulang bekerja di ladang, aku memberi tambahan mereka segelas susu, sesudah itu barulah aku menambahkan susu untuk anakku. Tetapi sebuah selagi, aku pulang ke tempat tinggal begitu larut malam dan anak-anakku tengah menangis sebab mereka belum meminum susu mereka, dan aku enggan menambahkan kepada mereka lebih pernah sebelum aku memberikannya kepada orangtuaku. Menjadi aku pergi ke kamar orangtuaku dan aku menyaksikan mereka telah tidur. Menjadi aku berdiri di sisi orangtuaku dan bukan tidur sepanjang malam bersama dengan susu tersebut, menanti mereka sehingga bangun dan anak-anakku tertidur didalam suasana lapar dan haus. Dan ketika orangtuaku bangun, aku menambahkan mereka susunya. Ya Allah, jikalau aku melaksanakan ini sebab-mu, maka tolong pindahkan batu ini.” Lantas batunya bergerak dan lumayan untuk mereka bertiga keluar.
Segudang pelajaran yang mampu kami ambil berasal dari hadist ini, keliru satunya adalah bagaimana Nabi S.A.W. mengajarkan supaya do’a kami dikabulkan. Do’A jadi kuat jikalau diiringi ketulusan. Lalu amal baik kami sanggup dibuat sebagai mediator kepada Allah. Saudara-Saudaraku, inilah sesuatu yang udah ditinggalkan tak terhitung umat muslim. Mereka bukan meminta kepada Allah melalui perantaraan amal baik mereka. Dan aku dulu mengalaminya sendiri.

Sebuah hari, anak perempuanku masuk tempat tinggal sakit gara-gara epilepsinya dan bukan sadarkan diri. Dia mengalami kejang-kejang yang terjadi kira-kira satu jam dan kita kehilangan asa. Aku menghadap ke kiblat dan berdo’a, aku menyebutkan amal baikku dan memohon kepada Allah lewat amal baik ini. Ketika aku berbalik, kejang-kejangnya berhenti.  Menjadi, berdo’a bersama dengan metode ini berhasil saudara-saudaraku, kami perlu yakin dan kami mesti mencobanya.

Orang-Orang berpikir bahwa sekali kami melaksanakan tawassul kepada Allah, maka amal baik tersebut menjadi hilang. Mereka sudah kenakan amal baik tersebut dan mereka bukan dapat menggunakannya ulang, atau mereka bukan akan memirsa amal baiknya di akhirat, dikarenakan amal baik tersebut telah dipakai. Ini adalah kesalahpahaman. Kau sanggup mengenakan amal baik yang serupa berulang kali di dalam melaksanakan tawassul kepada Allah, dan Allah masih terus memperhitungkan amal baik tersebut di hari kiamat.
Cara lain supaya Allah S.W.T. menjawab do’a bersama dengan cepat adalah bersama dengan menyebut sebutan dan pembawaan-cii-ciri-nya. Kau sanggup menyebutkan julukan-julukan Allah di di dalam Asmaul Husna layaknya Al-Malik, Al-Qudus, ya Rahman, ya Rahim, ya Ghaffur, ya Wadud, dan lain-lain. Kau sanggup menyebut cii-ciri-cii-ciri Allah yang disesuaikan bersama kebutuhanmu dan sesudah itu kau memohon kepada Allah S.W.T. perihal keperluanmu.

Keliru satu bentuk tawassul lainnya adalah bersama dengan meminta orang-orang saleh sehingga mendo’akanmu. Tapi kau sendiri juga kudu berdo’a berkaitan keperluanmu tersebut. Lalu yang kedua, kau bukan boleh minta do’a kepada mereka gara-gara kau merasa bahwa do’amu bukan akan diterima. Selama kedua poin di atas diperhatikan, maka kau sanggup meminta kepada orang lain untuk mendo’akanmu.

Sesi Tanya Jawab

Berlimpah orang berdo’a secara berjamaah, tetapi tersedia yang mengatakan bahwa ini adalah perbuatan bid’ah, tolong jelaskan.
Kau saksikan orang-orang berdo’a secara berjamaah didalam bermacam area layaknya mesjid atau pengajian, kuburan, terhadap pas hari seremoni Islam, dan lain-lain. Menjadi, keliru satu orang mengangkat tangannya untuk berdo’a, sesudah itu orang-orang yang lain tinggal mengatakan “Aamiin, aamiin, aamiin.”

Dan do’a berjamaah ini sebenarnya adalah bid’ah idafiyah. Bid’Ah haqiqiyah adalah kesesatan yang dibuat-buat tanpa tersedia dasarnya didalam hukum syariah mirip sekali. Tetapi bid’ah idafiyah punyai dasar di dalam hukum syariah tetapi orang-orang tidak benar mengartikan. Do’A berjamaah adalah bid’ah idafiyah sebab tersedia hadist Rasulullah S.A.W. dimana dia bersabda “Di akhir tiap-tiap shalat, do’a akan diijabah.” Menjadi kebanyakan orang keliru mengetahui mengenai hadist ini agar mereka menganggap dapat berdo’a tiap tiap selesai shalat dan mereka juga melakukannya secara berjamaah.

Namun do’a yang dijalankan Rasulullah S.A.W. di akhir tiap tiap shalat, layaknya yang dikatakan beberapa ulama, adalah do’a sebelum salam. Juga tersedia ulama lain yang mengatakan bahwa Nabi berdo’a sehabis salam. Do’A tersebut adalah “Allahumma ini a’udzubika min adzabil qabri wa min ‘Adzabin nari wa min fitnatil mahya wal mamati wa min fitnatil masihid dajjal.”

Tetapi bukan tersedia yang berpendapat bahwa sang imam berdo’a untuk para jamaah dan para jamaah sekedar mengucapkan “Aamiin.” Ini bukan dulu dikerjakan di zaman Nabi S.A.W.

Bid’Ah ini berlangsung sebab kurangnya ilmu, agar orang-orang bukan studi do’anya, menjadi sekedar sang imam-lah yang hafal do’a tersebut. Jadinya sang imam yang memimpin mereka dan mereka tinggal mengucapkan “Aamiin, aamiin, aamiin.” Praktek ini sudah dilaksanakan selama bertahun-th dan sekarang seakan-akan jadi bagian berasal dari agama Islam, hingga-hingga kalau kau pergi ke masjid dan bukan berdo’a berjamaah layaknya ini, maka mereka pikir do’amu bukan akan dikabulkan, kau dikatakan belum mencukupi shalat secara komplit.

Menjadi solusinya adalah kami perlu menghafalkan do’a tersebut didalam bahasa Arab dan berdo’a sendiri-sendiri. Wallahu’Alam.
Lebih dari satu orang, mengakhiri do’a bersama mengecup ibu jari dan mengusap mata mereka. Katanya mereka mendengar Rasulullah S.A.W. jalankan hal ini, menjadi benarkah demikian dan bolehkah ini dilaksanakan?

Ini bukan boleh dilaksanakan. Ini berasal berasal dari hadist palsu. Menjadi ini adalah tindakan yang bukan tersedia dasarnya didalam Islam dan mesti dihindari.
Apakah kami boleh berdo’a ketika jadi imam di dalam shalat? Dan do’a apa yang boleh diucapkan oleh imam di dalam shalat? Apakah do’a tersebut sekedar dapat dikerjakan terhadap kala rukuk atau terhadap selagi sujud saja, agar setelahnya kami bukan boleh berdo’a ulang? Misalnya sesudah berdo’a di dalam sujud, maka kami bukan boleh berdo’a ulang terhadap kala tasyahud akhir sebelum salam?
Kalau kau mengimami orang-orang di dalam shalat berjamaah, lantas kau berdo’a di dalam rukuk atau sujud, kau bisa meminta apapun kepada Allah. Dan jikalau kau mengikuti imam, ketika kau rukuk atau bersujud, kau juga sanggup berdo’a apapun sesudah mengucapkan kalimat Subhana rabbiyal adzim di dalam rukuk, atau Subhana rabbiyal a’la di dalam sujud, masing-masingnya diucapkan 3 kali.
Lalu ketika kau tengah didalam tasyahud akhir sebelum salam, kau juga bisa berdo’a apapun yang kau mau, dan sang imam juga sanggup berdo’a apapun yang dia mau, bukan tersedia batasannya.

Do’A apa yang paling baik setelah shalat?

Do’A yang paling baik adalah do’a yang dulu dijalankan Rasulullah S.A.W.

Kapan saja sementara paling baik untuk berdo’a?

Tersedia saat dimana do’amu bisa saja besar akan dijawab daripada ketika kau berdo’a di sementara-kala lainnya. Menjadi kami kudu jelas pas-waktunya, apalagi aku sendiri udah menghafalkannya. Diantara selagi-kala tersebut adalah:

Do’A yang Dikerjakan di Antara Adzan dan Iqamah

Rasulullah S.A.W. bersabda “Do’A yang ditunaikan di antara adzan dan iqamah akan diijabah.” Menjadi berdo’alah terhadap selagi tersebut.

Terhadap Hari Jumat Sebelum Maghrib

Tersedia berlimpah pendapat kapan tepatnya, namun menurutku yang paling baik berasal dari pendapat-pendapat yang tersedia, adalah satu jam sebelum Maghrib.. Itulah selagi dimana Allah akan mengabulkan suatu do’a.

Terhadap Pas Sepertiga Malam yang Paling akhir

Rasulullah S.A.W. bersabda bahwa Allah S.W.T. turun ke langit yang paling rendah dan berfirman “Apakah tersedia berasal dari hamba-hamba-ku yang meminta kepada-ku, supaya Aku sanggup mengabulkannya?” Menjadi jikalau kau bangun dan shalat Qiyamul Lail (Shalat malam), jangan lupa untuk berdo’a. Berdo’Alah di dalam rukukmu dan di dalam sujudmu. Dan sehabis selesai shalat, angkat tanganmu dan berdo’a ulang. Walaupun shalat juga merupakan do’a, tetapi kau juga dapat berdo’a untuk hal-hal lainnya.

Ketika Hujan Turun

Rasulullah S.A.W. bersabda bahwa ketika hujan turun, itulah selagi dimana do’amu akan dikabulkan. Menjadi ketika hujan konsisten-menerus, segeralah berdo’a disesuaikan kebutuhanmu sebelum hujan tersebut berhenti.

Ketika Tengah Bepergian

Berdo’A ketika tengah bepergian akan diijabah oleh Allah. Menjadi jangan dulu lupa untuk berdo’a ketika tengah bepergian jauh sebab Allah akan menjawabnya.

Seorang Wanita terhadap sementara Melahirkan Anaknya

Seorang wanita yang tengah melahirkan anaknya dan berdo’a, maka do’anya akan dikabulkan.

Do’A Orangtua Kepada AnaknyaDo’A seorang ibu atau seorang ayah kepada anaknya Insya Allah dikabulkan.
Berdo’A Ketika Sujud

Rasulullah S.A.W. bersabda “Kalian paling dekat bersama dengan Allah ketika bersujud. Perbanyaklah berdo’a ketika sujud.” Hadist yang kusebutkan sebelumnya bahwa di akhir tiap tiap shalat, do’a akan dikabulkan. Beberapa ulama berkata bahwa ini sebelum salam dan beberapa lainnya mengatakan sesudah salam. Tetapi tidak penting di tiap-tiap akhir shalat fardhu, kau mengangkat tanganmu, sebab tersebut bukanlah bagian berasal dari sunnah. Sebab Rasulullah S.A.W. bukan lakukan hal tersebut sesudah tiap tiap shalat fardhu.
Berdo’A Ketika Tengah Berpuasa

Menjadi kalau kau memiliki kebutuhan, berpuasalah terhadap hari Senin dan Kamis.

Di 10 Malam Paling akhir Bulan Ramadhan dan Malam Lailatul Qadar

Seorang Muallaf yang Baru Saja Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Seseorang yang baru saja masuk Islam, maka dosa-dosa di era lalunya dihapuskan oleh Allah. Maka untuk kalian yang muallaf, berdo’alah dan Insya Allah akan dikabulkan.

Apa saja etika ketika berdo’a?

Etika berdo’a adalah lebih baik di dalam keaadaan berwudhu. Ini tidak syarat untuk berdo’a, tetapi lebih baik untuk berwudhu. Ketika Rasulullah S.A.W. wudhunya batal, maka dia berwudhu lagi. Rasulullah S.A.W. selalu memperbaharui wudhunya. Kenapa begitu? Dikarenakan setan bukan amat mampu menggodamu ketika kau di dalam suasana berwudhu dan malaikat mendampingimu, maka berdo’alah ketika didalam kondisi berwudhu.

Etika lainnya adalah kami kudu merendahkan diri kami di hadapan Allah. Ini karena kami tengah berbicara bersama dengan Sang Pencipta.
Yang ketiga, pertama-tama kau memulai do’a bersama dengan memuji Allah, dapat juga bersama Asmaul Husna. Dan sesudah kau memuji-nya, sesudah itu bershalawatlah. Dan sehabis tersebut, kau sanggup berdo’a untuk keperluanmu. Dan sesudah kau selesai berdo’a, kau ulang memuji Allah kembali. Dan sesudah tersebut, kau menutupnya bersama mengucapkan shalawat kepada Rasulullah S.A.W. ulang.

 yaitu Pakistan, India, Bangladesh, ini berasal berasal dari sana. Dan terkecuali kau melihat terhadap negara-negara Arab, sporadis yang jalankan hal ini, menjadi norma ini bukan berasal berasal dari sana.

Menjadi ini adalah suatu norma layaknya misalnya ketika kau bersalaman lantas kau menempatkan tanganmu di dada. Menjadi ini bukan tersedia dasarnya didalam Islam.

Di dalam hadist, Rasulullah S.A.W. bersabda bahwa do’a merupakan ibadah. Menjadi kau bukan diperbolehkan tingkatkan atau mengurang-ngurangkan sesuatu didalam Ibadah. Ibadah tersebut udah ditetapkan mutlak, telah dijelaskan kepada kami di didalam hadist. Menjadi kami bukan boleh mengusap paras bersama dengan tangan sesudah berdo’a.

Bolehkah kami meminta kepada Allah lewat perantaraan Nabi Muhammad. Misalnya “Ya Allah, berikanlah kepadaku rezeki yang berlimpah lewat hak Nabi Muhammad.”

Bukan diperbolehkan untuk berdo’a kepada Allah lewat hak Nabi Muhammad S.A.W. Terkecuali lewat bentuk tawassul, baru diperbolehkan. Kecuali Rasulullah S.A.W. masih hidup, kau bisa memintanya untuk berdo’a untukmu. Tetapi Rasulullah S.A.W. udah wafat, maka bukan diperbolehkan meminta kepada Allah lewat hak Rasulullah S.A.W. Contohnya, kami bukan boleh berdo’a “Berikan kepada kita hal ini lewat hak Nabi Muhammad S.A.W., berikan kepada kita lewat si fulan atau si fulan.”

Jangan Lupa Share Lur !!!

Leave a Reply