Kisah Orang-orang yang Pernah Mendengar Al-Qur’an

Terhadap zaman Nabi Muhammad, orang-orang Arab tengah berada di puncak kemampuan berbahasa. Tersedia seorang penyair hebat terhadap zaman tersebut yang bernama Labeid bin Rabia. Dan puisi yang ditulis olehnya menyebabkan orang-orang Arab bersujud di hadapannya gara-gara merasa kagum. Namun ketika Labeid mulai mendengar ayat-ayat Al’Quran, dia memeluk Islam dan berhenti berpuisi. Ketika diminta untuk membacakan puisinya, dia malah berkata: “Puisi mana yang mampu menandingi kehebatan ayat-ayat Al’Quran?”
Dan memang segudang orang-orang Arab yang masuk Islam cuman sebab mendengar Al-Qur’An. Mereka tahu bahwa bukan tersedia orang yang sanggup menandingi estetika bahasa Al-Qur’An. Struktur Al-Qur’An berbeda berasal dari sastra Arab manapun. 
Didalam bahasa Arab, puisi dibagi jadi 16 bihar. Kata bihar penting “Bahari.” Puisi disebut bihar sebab tiap-tiap puisi bergerak didalam pola ritmis yang berbeda-beda. Di antara bentuk-bentuk bihar itu adalah sajak para peramal, prosa, prosa berirama, dan pidato.
Tapi Al-Qur’An bukan mampu digolongkan ke didalam keliru satu kategori puisi Arab. Al-Qur’An tersebut unik dan hingga terhadap puncak kefasihan tata bahasa. Inilah yang sebabkan Al-Qur’An tak mampu ditiru.
Ketika orang-orang Arab penyembah berhala mendengar seruan Nabi Muhammad, berlimpah berasal dari mereka yang mau menyembah Allah S.W.T. Para orang kaya dan orang yang memiliki kuasa mulai memberontak, gara-gara menurut mereka, tersebut sanggup mengganggu kepentingan mereka.
Hal ini karena Ka’Bah merupakan pusat ziarah bagi seluruh orang di Jazirah Arab. Dan suku suku Quraisy-Lah yang bertanggung jawab atas area-daerah di kira-kira masjid al-haraam, Ka’Bah, dan sekitarnya. Mereka adalah suku yang paling dihormati terhadap pas tersebut. Sebenarnya, Nabi Muhammad S.A.W. sendiri berasal berasal dari Bani Hashim yang merupakan tidak benar satu percabangan suku Quraisy.
Tapi kebanyakan orang-orang Quraisy berputus harapan dikarenakan pesan Nabi Muhammad. Mereka membayangkan jikalau berhala-berhala di di dalam Ka’Bah dihancurkan, maka siapa ulang yang akan berziarah ke Ka’Bah?Ziarah year ke Ka’Bah udah ditunaikan selama ribuan year, lebih-lebih sebelum era Nabi Muhammad, orang-orang Arab kerap berhaji ke Mekkah. Tetapi berhaji ke Mekkah jadi rusak sehabis orang-orang mulai menyembah berhala. Namun orang-orang yang menyembah berhala masih kerap berkunjung berasal dari semua Jazirah Arab untuk berhaji. Ini merupakan sumber kekayaan kaum Quraisy. Maka berasal dari tersebut, mereka takut pesan Islam yang dibawa Nabi Muhammad akan menghancurkan kekayaan mereka. Menjadi sebenarnya yang mereka pikirkan adalah kepentingan diri mereka sendiri, mereka sebenarnya sadar bahwa Nabi Muhammad memang utusan Allah.
Apalagi keliru satu paman Nabi Muhammad berkata: “Wahai Muhammad, sukumu inginkan peziarah dan suku kita juga menginginkannya. Sekarang kau mengaku bahwa kau adalah seorang utusan Tuhan, maka bagaimana barangkali kita dapat menyaingimu?” Menjadi, dia mengaku bukan mau masuk Islam cuman dikarenakan menghendaki terus setia terhadap sukunya.
Menjadi, mereka memutuskan untuk mengadakan rendezvous yang membahas cara-cara untuk memusuhi Nabi Muhammad dan ajaran Islam. Dan, Alkamar Ibnu Abdul Manaf, berbicara didalam rendezvous para pemimpin Quraisy:
“Wahai kaum Quraisy, suatu petaka baru sudah menimpa sukumu. Ketika Muhammad masih muda, dia adalah orang yang paling kalian sayangi, dia orang yang paling jujur dan bisa dipercaya, namun sekarang ketika dia telah mulai beruban, dia menyerukan suatu pesan kepada kalian. Kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang tukang sihir, tetapi dia tidak penyihir. Gara-gara para penyihir sebatas memainkan trik-trik mereka. Kalian mengatakan dia adalah seorang peramal, tetapi kami udah menyaksikan para peramal dan Muhammad bukan layaknya seorang peramal. Sesudah itu kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang penyair, namun dia tidak seorang penyair, gara-gara dia bukan pintar berpuisi dan kami memahami tiap-tiap type puisi. Kalian mengatakan bahwa dia kerasukan roh dursila, tetapi sebenarnya dia bukan kerasukan. Kami udah menonton orang-orang yang kerasukan dan dia bukan membuktikan tanda-tanda layaknya orang kerasukan. Wahai orang-orang Quraisy, lihatlah apa yang menimpa kalian, dikarenakan Demi Allah, hal yang serius sudah menimpa kalian.” 
Menjadi, orang-orang Quraisy bukan jelas perlu berbuat apa. Mereka mencoba menuduh Nabi sebagai seorang peramal, seorang penyihir, seorang penyair, atau orang kerasukan. Tetapi tak satu pun berasal dari tuduhan ini yang disesuaikan. Rakyat luas bukan yakin, gara-gara ketika mereka bertemu Nabi Muhammad, mereka paham bahwa cii-ciri Nabi bukan layaknya tuduhan-tuduhan tersebut.
Menjadi mereka memutuskan untuk mengatakan: “Keajaiban pidato Muhammad menjauhkan seorang manusia berasal dari ayahnya, istrinya, saudaranya, keluarganya, dan sukunya.” Dan pasti saja hal tersebut sahih didalam artian, pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, yaitu bahwa bukan tersedia yang patut disembah jika Tuhan Yang Maha Esa, adalah sesuatu yang terlalu revolusioner (Amat berbeda). Pesan tersebut sanggup sebabkan orang-orang yang tadinya menyembah berhala, jadi bukan mau ulang menyembah berhala dan sekedar menyembah Allah.
Sesudah itu Abu Lahab (Tidak benar satu paman Nabi Muhammad S.A.W.) biasanya memperingatkan orang-orang yang melalui di jalan menuju Mekkah di musim haji: “Hati-Hati bersama Muhammad. Dia memang keponakan saya, tetapi jangan dengarkan pidatonya. Jikalau kau mendengarkannya, maka kau akan terpikat oleh mantra pidatonya.”
Lantas tersedia seorang pria. Namanya adalah Tufayl ibn Amr. Tufayl adalah kepala suku Douse. Dia adalah seorang penyair yang benar-benar mahir agar dia dihormati didalam rakyat Arab. Tufayl ibn Amr tengah di dalam perjalanan untuk berhaji &Amp; sementara ia tiba di Mekkah, dia disapa oleh keliru satu orang Mekkah. Orang Mekkah tersebut berkata: “Hati-Hati bersama dengan Muhammad, dia benar-benar berbahaya!” Dan dikarenakan dia adalah orang yang berkedudukan di dalam rakyat, maka Tufayl ibn Amr juga dijamu oleh para pemimpin Quraisy. Para pemimpin Quraisy juga berkata kepada Tufayl: “Jangan dengarkan Muhammad, pidato ajaibnya akan membuatmu gila &Amp; membuatmu menjauh berasal dari segala hal yang kau cintai.”
Menjadi saya akan menuliskan kisah Tufayl ibn Amr berasal dari sudut pandangnya. Tufayl ibn Amr meriwayatkan:
“Aku mendekati Mekkah dan ketika para pemimpin Quraisy melihatku, mereka langsung medatangiku. Sesudah itu mereka memberiku sambutan yang terlampau hangat dan mengajakku ke suatu tempat tinggal yang besar, mereka memang pintar di dalam menjamu orang yang berkedudukan. Di didalam tempat tinggal tersebut, para pemimpin dan tokoh-tokoh penduduk sesudah itu berkata “Wahai Tufayl, menerima kasih gara-gara kau udah singgah ke kota kita. Tapi tersedia seseorang yang perlihatkan bahwa dirinya adalah seorang nabi. Orang ini udah mengganggu kepentingan kita. Dia juga menghancurkan kaum kita. Kita takut ia juga akan mempengaruhimu, mengganggu kepentingan, dan menghancurkan kaummu layaknya yang udah dilakukannya kepada kita. Maka, jangan berbicara bersama orang tersebut dan jangan dengarkan yang dia katakan. Pidatonya layaknya sihir yang menjauhkan seorang ayah berasal dari anaknya, seorang kakak berasal dari adiknya, dan juga seorang suami berasal dari istrinya.” Dan mereka konsisten menceritakan padaku cerita-cerita ini dan menakut-nakutiku terkait kelakuan Muhammad. Aku memutuskan untuk bukan mendekati orang ini, bukan berbicara kepadanya, dan bukan mendengarkan apa yang dikatakannya.
Keesokan harinya aku pergi ke area ibadah, aku pergi ke Ka’Bah dan laksanakan thawaf di kurang lebih Ka’Bah sebagai bagian berasal dari ibadah menyembah berhala yang kita muliakan. Aku menyumbat telingaku bersama dengan kapas sebab takut pidato Muhammad mempengaruhiku. Langsung sehabis aku memasuki area ibadah, aku melihatnya tengah berdiri di dekat Ka’Bah. Ia beribadah bersama cara yang berbeda bersama ibadah kita. Total caranya beribadah berbeda. Hal tersebut memikatku. Ibadahnya membuatku bergetar dan aku merasa tertarik padanya walaupun aku takut, hingga aku lumayan dekat dengannya. Takdir Tuhan mengidamkan beberapa kata-kata yang diucapkannya terdengar olehku &Amp; aku berkata terhadap diri sendiri: “Kenapa juga perlu takut? Kau adalah penyair yang cerdik, dan kau sanggup membedakan antara puisi yang baik &Amp; puisi yang buruk. Apa yang mencegahmu mendengarkan apa yang orang ini katakan? Jikalau apa yang dikatakannya baik, menerima saja dan kecuali buruk, maka tolaklah.”
Aku konsisten di sana hingga Nabi pulang ke rumahnya. Aku mengikutinya, sesudah itu ia memasuki rumahnya dan aku ikut masuk juga. Lantas aku berkata: “Wahai Muhammad, kaummu menceritakan hal-hal aneh tentangmu kepadaku, Demi Tuhan mereka tetap menakutiku bersama hal-hal tersebut dan menjauhkanku berasal dari seruanmu hingga-hingga aku menutup telingaku sehingga bukan mendengarkan perkataanmu. Walaupun begitu, Tuhan membuatku mendengar beberapa kata-katamu &Amp; kurasa pesanmu adalah pesan yang baik. Menjadi ceritakan kepadaku berkenaan tujuanmu.
Dan lantas dia memberitahu tujuannya kepadaku dan membacakan kepadaku surat Al Falaq. Aku bersumpah Demi Tuhan, aku belum dulu mendengar kata-kata yang seindah ini sebelumnya. Aku juga bukan dulu mendengar tujuan yang lebih mulia daripada tujuannya. Sesudah itu aku mengulurkan tanganku kepadanya di dalam kesetiaan &Amp; bersaksi bahwa bukan tersedia yang patut disembah terkecuali Tuhan Yang Maha Esa &Amp; bahwa Muhammad sahih-sahih utusan Tuhan. Dan itulah kisahku masuk agama Islam.” (Tufayl ibn Amr)
Lebih-lebih seorang penyair hebat layaknya Tufayl terpesona ketika mendengarkan Al-Qur’An. Dia hanyalah mendengarkannya dan segera jadi seorang Muslim.
Namun sebenarnya lebih-lebih para pemimpin Quraisy juga kagum bersama dengan ayat-ayat Al-Qur’An. Menurut Sirah Ibn Isya, tersedia satu kejadian ketika Abu Sufyan, Abu Jahal, dan Abu Annasyang merupakan pemimpin Quraisy, mereka menyelinap keluar berasal dari tempat tinggal mereka di malam hari untuk mendengarkan Nabi yang tengah membaca Al-Qur’An. Menjadi mereka mendengarkan Al’Quran berasal dari daerah persembunyian hingga fajar tiba. Dan didalam perjalanan pulang, mereka saling bertemu satu mirip lain sambil berkata: “Jangan dulu melakukannya kembali dikarenakan kecuali tidak benar satu penduduk jelata melihatmu, maka tersebut akan menimbulkan kecurigaan di dalam pikiran mereka.” Menjadi mereka seluruh berjanji untuk bukan mengulangi perbuatan tersebut kembali.
Namun hal ini berjalan selama tiga malam berturut-turut. Ulang-Kembali mereka menyelinap keluar tempat tinggal hanyalah untuk mendengarkan Nabi membaca Al-Qur’An dan mereka saling bertemu satu serupa lain. Hingga terhadap kelanjutannya mereka bersumpah bukan akan dulu melakukannya ulang.
Inilah pertanyaannya: Bagaimana barangkali manusia yang buta huruf &Amp; bukan terpelajar, bukan dulu menulis puisi, mampu menghasilkan suatu karya yang tak tertandingi di dalam kefasihan bahasa yang begitu paripurna, agar lebih-lebih para pakar di dalam seluruh style puisi Arab bukan bisa menciptakan puisi yang mampu menandingi surat terpendek berasal dari Al’Quran? Bagaimana barangkali mereka lebih memilih melawan Nabi daripada hanyalah menciptakan sesuatu yang menandingi ayat-ayat Al’Quran?
Mari kami menyaksikan kisah lainnya. Ini adalah kisah Umar ibn Al Khatab. Dia adalah tidak benar satu sahabat Nabi Muhammad, tetapi sebelumnya ia adalah tidak benar satu musuh kaum muslimin yang paling kejam. Ia kerap menyerang kaum muslimin dan melecehkannya. Dan suasana ini udah begitu buruk agar umat Islam terpaksa melarikan diri ke Abyssinia.
Ketika ini berjalan, Umar sahih-sahih bukan suka akan Islam. Sampai sebuah hari ia memutuskan: “Aku akan membunuh Muhammad.” Dia mengambil pedangnya dan ia terjadi untuk membunuh Nabi Muhammad.
Tapi didalam perjalanan ia bertemu bersama seseorang yang sudah jadi muslim secara diam-diam. Dan dia berkata: “Umar, kau mau pergi kemana bersama menenteng pedang layaknya tersebut?” Umar berkata: “Aku tengah didalam perjalanan untuk membunuh Muhammad.” Menjadi orang tersebut berpikir. Dan sesudah itu dia ingat bahwa sebenarnya adik Umar juga udah jadi muslim. Dia berkata: “Sebelum kau berurusan bersama Muhammad, bisa saja kau wajib berurusan bersama keluargamu sendiri lebih pernah.” Kata Umar: “Apa maksudmu?” Kata orang tersebut: “Adikmu udah jadi Muslim.” Menjadi Umar begitu marah! Bersama menenteng pedangnya, ia berangkat ke tempat tinggal adik perempuannya.
Dan ketika ia hingga di pintu, dia mendengar melodi adiknya membaca Al-Qur’An. Dia mendobrak pintu &Amp; ternyata adik &Amp; suami adiknya tengah membaca sesuatu. Dia menerjang dan memukul adiknya agar adiknya jatuh di lantai sampai berdarah. Adik Umar mengatakan: “Aku sudah jadi muslim, laksanakan apa saja yang kau bahagia, bunuh saja aku, aku bukan peduli.” Dan ketika Umar lihat adiknya tergeletak di lantai, udah berdarah, tetapi adiknya terus teguh di dalam membela dirinya, &Amp; apalagi bukan takut mati, kemarahan Umar mereda. Dia berkata: “Adikku, apa tersebut yang kau baca?” Adiknya berkata: “Ini adalah ayat-ayat Al’Quran, firman Allah.” Umar mengatakan: “Biarkan aku membacanya.” Adiknya berkata: “Bukan boleh sebelum kau mencuci tangan terlebih dahulu.” Menjadi Umar mencuci tangan, dia bukan boleh menyentuh Al’Quran tanpa mencuci tangan. Dan sesudah itu dia duduk dan mulai membaca. Dan sejalan dia tetap membaca, Al’Quran mulai memasuki hatinya.
Dia meletakkan Al’Quran &Amp; lantas dia pergi. Ia pergi ke area Nabi Muhammad S.A.W. “Di mana Muhammad?” dia bertanya. Orang-Orang mengatakan: “Muhammad, tersebut adalah Umar, ia udah mampir.” Nabi berkata: “Biarkan dia masuk.” Umar mampir dan mengatakan: “Wahai Muhammad, aku bersaksi bahwa bukan tersedia Tuhan yang patut disembah terkecuali Allah &Amp; aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Dan inilah kisah Umar yang tadinya memusuhi Islam, berubah jadi keliru satu pembela Islam yang paling kuat &Amp; giat. Dan ia terkenal dikarenakan keadilan, kesalehan, &Amp; sifatnya yang selalu membela kebenaran. Inilah kisah berkaitan orang lain yang memeluk Islam sekedar gara-gara mendengar ayat-ayat Al-Qur’An.

Jangan Lupa Share Lur !!!

Leave a Reply