Fakta Sejarah dalam Al-Qur’an

Terhadap artikel kali ini kami akan membicarakan terkait fakta sejarah di dalam Al-Qur’An.
Pertama-Tama, tersedia kisah perihal Nabi Noah (Nuh A.S.) di didalam Al-Qur’An. Nabi Noah juga diceritakan di dalam Bible. Kami seluruh tentu jelas terkait kisah Noah (Nuh A.S.), dimana Tuhan mengutus Noah kepada kaumnya tapi 7 kaum Noah (Nuh A.S.) bukan mau beriman kepada Tuhan. Oleh sebab tersebut, Tuhan mengirimkan banjir terhadap mereka. Sebelum banjir, Tuhan menyuruh Noah untuk membangun suatu perahu.
Di dalam Al-Qur’An surat Hud ayat 44 disebutkan bahwa perahu Noah terdampar di atas gunung Istawa Judi yang berada di Turki. Berikut ayatnya:
Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (Hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan perahu itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim .” (Q.S. Hud:44)
Dan menurut penelitian arkeologi di kurang lebih kawasan Gunung Istawa Judi, tersedia suatu benda berbentuk bahtera bersama ukuran yang mirip layaknya citra perahu Noah. Berikut ini gambarnya:
Tetapi Bible mengatakan perahu Noah terdampar di Gunung Arafat yang berjarak 20 mil jauhnya berasal dari gunung Istawa Judi. Dan tersedia persoalan bersama klarifikasi Bible. Gunung Arafat merupakan formasi geologi yang nisbi baru. Terhadap era Nabi Noah (Nuh A.S.), Gunung Arafat belum tersedia. Bible juga mengatakan bahwa semua global terkena bala banjir. Tetapi ini bukan disesuaikan bersama dengan pengetahuan arkeologi dan ilmiah.
Secara ilmiah, bukan barangkali hujan turun selama 40 hari dan 40 malam secara konsisten-menerus. Ketika semua permukaan bumi jadi berawan gara-gara hujan, maka bagaimana bisa saja matahari mampu mengeluarkan panasnya agar menguapkan air bahari untuk menghasilkan lebih berlimpah hujan?
Menurut Bible, tiap-tiap puncak gunung tergenang air. Tapi bukan memadai air di bumi untuk memicu permukaan air bahari naik menutupi seluruh puncak gunung di bumi. Gara-gara pegunungan Everest adalah gunung tertinggi, maka perlu tersedia lebih tak terhitung air di bumi untuk membawa dampak permukaan bahari menutupinya. Menjadi, menurut ilmu ilmiah hal ini bukan kemungkinan.
Tetapi Al-Qur’An Al-Qur’An mengatakan bahwa banjir ini sekedar meliputi kaum Noah. Dan memang segudang bukti geologi yang menandakan dulu terjadinya banjir dashyat di daerah tersebut.
Menjadi amat menarik bagaimana Al-Qur’An bersama dengan seksama perlihatkan bahwa perahu Nabi Noah terdampar di gunung Judi. Dan memang suatu objek berbentuk perahu yang amat besar sudah ditemukan di area tersebut. Adapun orang-orang yang melacak perahu Noah di Gunung Ararat selama bertahun-tahunan bukan menemukan apa-apa selama ini. Menjadi Al-Qur’An disesuaikan bersama information arkeologi dan ilmiah.
Sekarang, mari kami bahas fakta sejarah lainnya. Al-Qur’An berfirman bahwa Joseph (Yusuf A.S.) memanggil pemimpin masyarakat Mesir terhadap masanya bersama dengan nama “Raja.” Gelar Fir’Aun atau Far’Aun yang bukan digunakan oleh Joseph (Yusuf A.S.) terhadap sementara dia menyebut penguasa Mesir terhadap masanya. Gelar Fir’Aun baru digunakan terhadap zaman Musa. Menjadi Musa menyebut penguasa Mesir bersama nama Far’Aun, tetapi Yusuf bukan menyebut peguasa Mesir bersama dengan julukan tersebut. Dia menyebutnya “Raja.”
Dinasti Mesir terhadap waktu zaman Joseph (Yusuf A.S.) disebut dinasti Hicos. Dinasti Hicos sebenarnya adalah dinasti Semit dan mereka bukan punyai kebudayaan layaknya kerajaan Mesir. Bersama kata lain, mereka bukan menyebut penguasa mereka bersama dengan julukan Fir’Aun.
Tetapi, terhadap kala zaman Musa, dinasti Hicos yang berasal berasal dari Semit sudah lenyap dan digantikan oleh penguasa Mesir yang orisinil. Dan orang Mesir orisinil  menyebut penguasa mereka bersama nama  Fir’Aun/Far’Aun tepat layaknya yang disebutkan di dalam Al-Qur’An.
Menjadi ini adalah akurasi yang amat-terlampau jitu dan menakjubkan dikarenakan hal ini bukan disebutkan di dalam Bible.
Sekarang kami akan lanjut ke zaman Musa ketika dia berhadapan bersama Fir’Aun.
Tongkat Nabi Musa dapat berubah jadi ular. Nabi Musa juga sanggup mengeluarkan cahaya putih berasal dari tangannya. Di dalam perdebatan di antara mereka, Fir’Aun berkata bersama begitu arogan:
“Wahai Haman, bangunlah suatu menara yang tinggi supaya aku bisa lihat Tuhannya Musa.”
Sekarang mari kami teliti hal ini. Disini Fir’Aun berbicara kepada Haman. Dan lebih dari satu sarjana Kristen mengatakan bahwa Haman adalah suatu julukan yang diberikan kepada penguasa Persia terhadap era kurang lebih 1.200 th sehabis zaman Musa.
Menjadi orang-orang Kristen berkata:  “Lihatlah, Muhammad apalagi menyalinnya berasal dari Bible. Dia mengambil julukan Haman berasal dari Bible dan sesudah itu memasukkannya ke didalam zaman Musa.”
Namun masalahnya adalah, bukan tersedia Bible di dalam bahasa Arab di zaman Nabi Muhammad S.A.W. dan Nabi Muhammad S.A.W. juga buta huruf. Darimana ia terima ilmu ini? Dan bagaimana barangkali Nabi Muhammad bukan ikut menyalin kesalahan di dalam Bible? Ini bukan masuk akal.
Dan saya sendiri ingat ketika sekelompok mahasiswa di Cambridge University mencoba untuk menganalisis pemahaman para orientalis. Para orientalis mengatakan bahwa sebagian bagian Al-Qur’An disalin berasal dari Bible dan  para mahasiswa tersebut berusaha membantahnya.
Menjadi mereka mengambil keliru satu kamus istilah hieroglyphical (Huruf Mesir antik) dan melacak mengetahui apakah tersedia seseorang bernama Haman terhadap zaman Mesir antik. Walaupun mereka bukan menemukan buku berbahasa Inggris, namun mereka menemukan suatu buku di dalam bahasa Jerman. Dan lewat buku ini mereka menemukan suatu temuan yang luar biasa. Ternyata Haman adalah sebutan jabatan dan bukanlah julukan seseorang. Haman adalah julukan jabatan didalam rakyat Mesir.
Haman adalah mandor berasal dari orang-orang yang membangun bangunan berasal dari batu. Ini sesuatu yang terlalu luar biasa. Menjadi sebenarnya Fir’Aun berkata: “Wahai tuan berasal dari orang-orang yang membangun batu, dirikanlah buatku suatu menara yang tinggi agar aku mampu lihat Tuhannya Musa.”
Kamu bukan akan menemukan hal ini di dalam Bible, kamu sebatas akan menemukannya di didalam Al-Qur’An.
Kesimpulannya, seluruh ini menyatakan bahwa Al-Qur’An bukanlah salinan berasal dari Bible gara-gara tersedia lebih dari satu orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad-Lah yang mengarang Al-Qur’An dan dia menyalinnya berasal dari Bible. Dan tersedia tiga poin vital disini:darimana Nabi Muhammad memperoleh info yang begitu seksama kecuali tidak berasal dari Allah?Bukan kemungkinan Nabi Muhammad menyalinnya berasal dari Bible, gara-gara dia tentu juga akan menyalin kesalahan di di dalam Bible.Ilmu membaca hieroglif sudah hilang ratusan tahunan sebelum era Nabi Muhammad S.A.W., tetapi Al-Qur’An menggambarkan sejarah Fir’Aun bersama begitu seksama. 

&Nbsp;Menjadi ini seluruh memperlihatkan bahwa memang Al-Qur’An adalah wahyu berasal dari Allah.

Jangan Lupa Share Lur !!!

Leave a Reply