Fakta Ilmiah dalam Al-Qur’an

Terhadap artikel sebelumnya kami sudah membahas perihal ayat-ayat Al-Qur’An yang menjelaskan pertumbuhan janin di di dalam rahim. Lantas kami juga membaca hadits Nabi Muhammad S.A.W. bahwa ketika 42 hari udah berlalu, maka Allah meniupkan ruh ke didalam embrio bersama mengirimkan seorang malaikat untuk mebentuk telinga, mata, kulit, daging dan tulangnya dan lantas dia bertanya: “Ya Tuhan, apakah anak ini dijadikan laki-laki atau seorang perempuan? ” Maka Tuhan memutuskan apa yang Dia dambakan dan malaikat mencatatnya. Menjadi terhadap hari ke-42 atau sehabis hari ke-40 barulah type kelaminnya sanggup diidentifikasi. Dan ini sudah terbukti secara ilmiah. Berita ini baru kami ketahui di zaman modern bersama dengan adanya mikroskop yang canggih.
Sekarang mari kami memirsa komentar berasal dari Keith Moore yang merupakan profesor dan ketua departemen anatomi di Universitas Toronto, Kanada. Dia pakar yang terkenal di dalam bidang pertumbuhan janin dan embrio. Bukunya yang berjudul The Developing Human selama bertahun-year jadi buku teks baku didalam berlimpah perguruan tinggi di semua global. Buku-Bukunya diterjemahkan ke di dalam segudang bahasa. Dia mempelajari ayat-ayat Al-Qur’An dan hadist Nabi Muhammad berkaitan pertumbuhan embrio manusia, dan menurutnya:
“Hingga abad ke-19 bukan tersedia yang menyadari tahapan pertumbuhan manusia . Suatu platform termin pertumbuhan embrio manusia baru dikembangkan di lebih kurang akhir abad ke-19 berdasarkan simbol alfabet. Dan selama abad ke-20, simbol angka digunakan untuk menggambarkan 23 termin pertumbuhan embrio. Platform penomoran termin  ini bukan ringan dipahami, dan platform yang lebih baik seharusnya didasarkan terhadap perubahan morfologi. Didalam sebagian th paling akhir, belajar Al-Qur’An mengungkapkan dasar lain untuk klasifikasi termin embrio yang berkembang, yang didasarkan terhadap  perubahan bentuk yang enteng dipahami. Termin ini memakai istilah yang digunakan Tuhan dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril dan juga dicatat didalam Al-Qur’An. Menyadari bagi saya bahwa tentu ayat-ayat ini hingga kepada Muhammad berasal dari Tuhan, sebab hampir seluruh ilmu ini belum dulu ditemukan hingga lebih dari satu abad lantas. Seluruh ini memperlihatkan bahwa Muhammad tentu Rasul Tuhan.”
(Keith Moore, The Developing Human)
Dia adalah tidak benar satu pakar paling baik yang memeriksa ayat-ayat Al-Qur’An dan hadist. Dan dia mengatakan bahwa mustahil kabar tersebut diketahui oleh orang-orang yang hidup terhadap jaman 1.400 th yang lalu, dan dia juga menyatakan bahwa embriologi modern perlu mengikuti platform tahapan yang disebutkan didalam Al-Qur’An. Bersama dengan kata lain, Al-Qur’An sudah menggambarkan pertumbuhan embrio manusia bersama dengan begitu memahami agar perlu jadi baku buku teks ilmiah.
Menjadi ini pernyataan yang terlalu luar biasa. Keith Moore sendiri terhadap pada akhirnya jadi seorang muslim.
Kelanjutannya kami mengidamkan membahas mengenai daur air. Proses daur air berlangsung ketika matahari memanaskan bahari agar airnya menguap dan terbentuklah awan. Sesudah itu angin membawa awan itu hingga terhadap selanjutnya turunlah hujan. Kemungkinan kami udah memahami bagaimana proses daur air dan pembentukan cadangan air di bawah tanah. Tetapi orang-orang zaman dahulu, misalnya terhadap zaman Yunani antik, mereka bukan sanggup menjelaskannya walaupun mereka pakar didalam bidang filsafat dan pengetahuan ilmu. Mereka berteori bahwa mata air bawah tanah adalah kumpulan air yang singgah berasal dari bahari dan terkumpul di gua-gua. Dan sesudah itu air yang berkunjung berasal dari bahari dan terkumpul di gua-gua tersebut meresap ke di dalam daerah cadangan bawah tanah lewat jurang di didalam bahari.
Apalagi baru terhadap abad ke-18 orang-orang tahu daur air. Tapi terhadap jaman 1.400 tahunan yang lalu, Al-Qur’An udah menjelaskannya terhadap surat Az-Zumar di ayat 21:
” Apakah anda bukan perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah turunkan air berasal dari langit, maka diaturnya jadi sumber-sumber air di bumi lantas ditumbuhkan-nya bersama dengan air tersebut tanam-flora yang berbagai-macam warnanya, lalu jadi kering lalu anda melihatnya kekuning-kuningan, sesudah itu dijadikan-nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya terhadap yang demikian tersebut sahih-sahih terdapat pelajaran bagi orang-orang yang punyai akal.” &Nbsp;
(Q.S. Az-Zumar:21)
Tersedia satu fakta menarik yang disebutkan didalam surat An-Nuur Al-Qur’An ayat 40. Dan ayat tersebut membahas berkaitan orang-orang kafir. Al-Qur’An menggambarkan kondisi orang kafir sebagai berikut:
Atau layaknya gelap gulita di lautan yang didalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (Pula), di atasnya (Kembali) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia bisa melihatnya, (Dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (Petunjuk) oleh Allah tiadalah dia miliki cahaya sedikitpun. (Q.S. An-Nuur:40)
Di sini Allah berfirman bahwa orang-orang kafir yang bukan beriman kepada-nya, adalah orang yang berada didalam kegelapan. Hidup mereka begitu membingungkan hingga-hingga mereka hampir bukan mampu memirsa.
Tampaknya ayat ini terkesan terlampau puitis dan kuat. Tetapi jikalau kami menelitinya bersama cermat, tersedia fakta ilmiah di di dalam ayat ini.
Pertama-Tama, Al-Qur’An menjelaskan berkenaan lautan yang di dalam dan ombak di atas ombak. Pasti kami mengerti terkait ombak yang tersedia di permukaan bahari. Namun apa artinya “Ombak di atas ombak”? Apakah tersedia ombak lain di di dalam bahari? Nah, kami akan melacak memahami.
Di kedalaman bahari sebenarnya tersedia ombak juga dan hal ini baru ditemukan para ilmuwan zaman modern. Ini disebut bersama dengan gelombang internal. Gelombang internal disebabkan gara-gara air di kedalaman miliki tekanan yang lebih tinggi daripada air di atasnya. Menjadi tepat layaknya klarifikasi Al-Qur’An yaitu “Ombak di atas ombak.”
Al-Qur’An juga menjelaskan perihal orang-orang yang kehilangan cahaya supaya mereka bukan bisa memirsa. Sinar cahaya terdiri berasal dari tujuh rona: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Ketika cahaya menembus kedalaman air, maka ini dikenal bersama dengan istilah “Refraksi.” Misalnya, di kedalaman 10-15 meter, air menyerap rona merah, dan pas kamu menyelam lebih di dalam ulang, tiap tiap spektrum rona diserap oleh air, supaya terhadap kedalaman kurang lebih 1.000 meter maka situasi telah gelap keseluruhan.
Ingat apa yang Al-Qur’An firmankan: “Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia mampu melihatnya.” Kegelapan ini berada di bawah gelombang internal didalam bahari. Apalagi tersedia ikan eksklusif di kedalaman itu yang sanggup menghasilkan cahaya sendiri agar ikan-ikan tersebut sanggup menyaksikan. Ini sahih-sahih menakjubkan gara-gara baru terhadap jaman modern sekarang, orang-orang dapat menjelajahi kedalaman bahari di bawah 1.000 meter. Semata-mata bersama mesin modern yang benar-benar canggih, kapal selam, dan sandang menyelam, maka seseorang mampu turun ke kedalaman tersebut.
Tetapi Al-Qur’An 1.400 year yang lalu telah menggambarkan gelombang internal lautan dan kegelapan yang tersedia di kedalaman lautan. Bagaimana kemungkinan Nabi Muhammad yang tinggal di padang pasir jelas kabar yang rinci berkaitan pengetahuan ilmu dan oseanografi?
Professor Rao yang pakar didalam hayati kelautan di Universitas King Abdul Aziz di Jeddah mengatakan:
“1.400 tahunan yang lalu seorang manusia normal bukan dapat menjelaskan kenyataan ini secara rinci supaya kabar ini tentu singgah berasal dari Sesuatu yang supernatural (Ghaib).” &Nbsp;
(Professor Rao, Pakar Hayati Kelautan)
Kelanjutannya saya akan membahas ayat-ayat Al-Qur’An yang menjelaskan berkenaan alam semesta.
Hingga th 1960-An tersedia kontroversi besar di antara para ilmuwan perihal situasi alam semesta. Lebih dari satu ilmuwan mulai mengembangkan teori bahwa alam semesta sebenarnya konsisten meluas. Berasal dari teori ini, muncullah teori Big Bang. Teori Big Bang mengatakan bahwa alam semesta berawal berasal dari singularitas. Terhadap awalnya, alam semesta tersebut terlampau kecil, berasal dari materi yang benar-benar padat dan bertekanan tinggi. Sesudah itu materi yang terlampau padat dan bertekanan tinggi ini meledak dan terciptalah alam semesta.
Tersedia juga teori situasi tidak aktif. Teori ini terlalu disukai para ateis. Teori ini mengatakan bahwa alam semesta terus layaknya ini di era lalu dan situasi alam semesta takkan dulu berubah hingga kapanpun. Teori ini diyakini oleh para ilmuwan jaman lalu dan juga oleh Albert Einstein. Dikarenakan Albert Einstein adalah ilmuwan terkenal, maka orang-orang juga yakin terhadap teori kondisi tidak aktif.
Teori suasana tidak aktif ditentang oleh teori Big Bang yang didukung oleh Fred Hoyle dan Lemaitre. Dan terhadap zaman modern, bukti-bukti udah terungkap yang tunjukkan bahwa variasi di dalam spektrum cahaya yang dipancarkan berasal dari galaksi dan bintang, yang disebut “Red Shift” menyatakan bahwa alam semesta memang semakin meluas. Dan fakta ilmiah ini udah disepakati oleh hampir seluruh ilmuwan. Bukti-Buktinya benar-benar paham dan kuat.
Sekarang kami cocokkan bersama apa yang Al-Qur’An firmankan didalam surat Adz:Dzaariyaat ayat 47:
“Dan langit tersebut, Kita membuatnya bersama kekuasaan (Kita) dan sesungguhnya Kita yang memperluasnya.” (Adz-Dzaariyaat:47)
Ini luar biasa dikarenakan terhadap jaman 1.400 year yang lalu, Al-Qur’An telah menyebutkan bagaimana alam semesta berkembang.
Bukti pada akhirnya adalah inovasi “Radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik” terhadap tahunan 1964. Dan ini sudah diprediksi didalam teori Big Bang sebagai hasil berasal dari plasma panas-terionisasi terhadap era awal pembentukan alam semesta, yaitu ketika pertama kali plasma panas-terionisasi itu jadi dingin supaya memadai untuk membentuk hidrogen netral dan membawa dampak ruang angkasa jadi transparan dan enteng. Dan inovasi ini memicu kalangan fisikawan sepakat bahwa Big Bang adalah tipe yang paling tepat untuk mengemukakan asal dan evolusi alam semesta.
Apa yang Al-Qur’An katakan didalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 30?
” Dan apakah orang-orang yang kafir bukan paham bahwasanya langit dan bumi tersebut keduanya dahulu adalah sebuah yang padu, sesudah itu Kita pisahkan antara keduanya. Dan berasal dari air Kita jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” &Nbsp;(Al-Anbiyaa’:30)
Para ilmuwan zaman modern percaya bahwa alam semesta berasal berasal dari materi yang terlalu padat (Singularitas) dan mengarah terhadap terjadinya Big Bang. Al-Qur’An membuktikan suasana singularitas ini bersama dengan benar-benar tepat. Inilah bukti bahwa Al-Qur’An memang firman Allah.
Al-Qur’An juga menyebutkan bahwa Allah berpaling ke langit waktu “Dukhan.” Dan dukhan di dalam bahasa Arab penting asap. Ini juga bersama seksama menggambarkan massa gas panas berasal dari alam semesta sebelum galaksi dan bintang-bintang mulai terbentuk.
Menjadi 1.400 tahunan yang lalu, Al-Qur’An telah menjelaskan perihal suasana alam semesta yang tetap berkembang, berbicara mengenai asal-mula alam semesta, bahwa Langit dan Bumi tadinya manunggal, berbicara berkaitan massa gas panas yang layaknya asap.
Dan Al-Qur’An didalam Surat Al-Anbiyya ayat 30 menyebutkan bahwa tiap-tiap makhluk hidup terdiri berasal dari air. Manusia dan fauna kira-kira 70 sampai 80Prosen terdiri berasal dari air. Inilah fakta lainnya yang udah disebutkan didalam Al-Qur’An 1.400 tahunan yang lalu.

Menjadi sesudah membaca berkenaan fakta-fakta ilmiah yang tersedia di di dalam Al-Qur’An, saya harap bagi yang muslim maka akan semakin beriman kepada Allah S.W.T.. Sedangkan bagi yang non-muslim, maka kita mengundang kamu untuk menuju jalan yang sahih, menuju Islam, suatu agama yang diwahyukan untuk menuntun umat manusia menuju rahmat Allah.

Jangan Lupa Share Lur !!!

Leave a Reply