Bukti Keaslian Hadist Nabi Muhammad S.A.W.

Al’Quran bukanlah satu-satunya petunjuk bagi umat muslim. Kami juga wajib hadist Nabi Muhammad. Menjadi sekarang kami akan membahas bagaimana caranya para ulama Islam mempertahankan keaslian hadist Nabi Muhammad.
Untuk sekadar mengingatkan, terhadap zaman Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya, sebagaimana juga ditulis oleh Michael Zwettler:
“Terhadap zaman dahulu, tulisan sporadis digunakan. Menjadi orang-orang mengenakan metode penghafalan dan menyebarkannya secara lisan.” &Nbsp;(Michael Zwettler)
Norma orang-orang terhadap zaman dahulu adalah menghafal dan menyebarkan perkataan nenek moyang mereka berasal dari mulut ke mulut, dan mereka sporadis menuliskannya. Bersama begitu, kemampuan menghafal umat manusia terhadap zaman tersebut lebih kuat daripada zaman sekarang.
Segudang orang terhadap zaman sekarang yang terheran-heran gara-gara kami bukan terbiasa menghafal. Oleh maka dari itu, ingatan kami cenderung lemah. Sebagai contoh, kami lebih memilih untuk mencatat sebuah hal yang harus diingat di di dalam laptop atau terhadap secarik kertas. Tapi terhadap zaman tersebut, orang-orang lebih senang menghafal.
Hadist kecuali diterjemahkan penting “Kisah”. Sebenarnya Al-Qur’An juga disebut sebagai Al-Hadist, lebih-lebih Al-Qur’An adalah hadist paling baik, kisah atau narasi yang paling baik. Umumnya, didalam Islam, sabda Nabi Muhammad dicatat di dalam hadist. Menjadi hadist adalah istilah untuk tulisan-tulisan di mana tindakan dan sabda Nabi Muhammad S.A.W. dicatat.
Dan tersedia segudang kitab hadist dikarenakan tersedia segudang hal yang disabdakan/dikerjakan Nabi Muhammad S.A.W. selama periode kerasulannya
Dikarenakan tersedia begitu tak terhitung hadist, maka timbul satu persoalan. Sehabis Nabi Muhammad S.A.W. wafat, segudang orang yang mulai mengarang-ngarang dan berbohong perihal Rasulullah. Misalnya para penjual beras, mereka berpikir sehingga berasnya semakin laku adalah bersama dengan mengarang-ngarang “Nabi menganjurkan kami makan nasi, sebab beras baik untuk kesegaran kalian.” Menjadi kecuali seluruh orang berpikir beras tersebut menyehatkan dan ini juga dianjurkan Rasulullah, maka makin tak terhitung orang yang akan membeli beras. Begitu juga para penguasa-penguasa Arab mencoba untuk menutupi kesalahan mereka bersama mengarang-ngarang sabda Rasulullah.
Mesti diketahui, bahwa otentifikasi hadist Nabi Muhammad berbeda bersama dengan cara mempertahankan keaslian Al’Quran. Hal ini disebabkan dikarenakan: Pertama, Al-Qur’An dihafalkan oleh ribuan umat Islam berasal dari jaman awal Islam. Dan teks Al’Quran juga sudah dikumpulkan &Amp; disusun semenjak awal jaman Islam. Menjadi terkecuali tersedia yang membawa dampak kesalahan, jikalau tersedia kelompok eksklusif yang mendambakan mengarang-ngarang ayat Al’Quran, mereka bukan akan sanggup melakukannya sebab teks Al’Quran udah dihafal dan sudah disepakati seluruh orang.
Tetapi bukan demikian halnya bersama hadist atau sabda Nabi. Oleh sebab tersebut, tersedia segudang kitab hadist. Memang tersedia sekumpulan hadist yang benar-benar mampu dipercaya dan otentik. Kitab ini diakui sebagai kitab kedua yang paling otentik sehabis Al-Qur’An. Kitab ini adalah Hadist Benar Al Bukhari. Kata “Benar” penting “Otentik.” Dan Al-Bukhari adalah sebutan Imam yang mengumpulkan bermacam sabda Nabi Muhammad S.A.W. dan membukukannya. Kumpulan hadist paling otentik sehabis hadist Benar Al-Bukhari adalah hadist Benar Muslim. Kitab hadist Benar Muslim disusun oleh Imam Muslim. Dia seorang ulama yang terlalu terkenal. Allah berfirman: 
“Ya ayyuhal ladzina amanu ati’ ullaha wa ati’ urrosul” 
(Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan para Rasul)
Dan memang tak terhitung ibadah yang paling berarti Islam bukan sepenuhnya dijelaskan di didalam Al-Qur’An.
Misalnya mengenai shalat lima saat. Allah berfirman di didalam Al-Qur’An: “Akki musallah” yang signifikan “Dirikanlah Shalat”, namun cara-caranya bukan dijelaskan di dalam Al-Qur’An. Demikian pula, tersedia berlimpah hal didalam Al-Qur’An yang bukan bisa kami pahami jika Nabi Muhammad S.A.W. dulu bersabda dan mencontohkannya. Terkecuali kamu inginkan paham bagaimana cara lakukan shalat lima saat, maka kamu juga kudu paham hal-hal berikut:kapan waktunya shalat? apa yang seharusnya kami ucapkan selagi shalat? berapa segudang raka’at di dalam tiap-tiap shalat? apa yang kudu diucapkan didalam tiap tiap gerakan shalat? apa saja gerakannya? apa urutan gerakan didalam shalat?
Seluruh ini bukan disebutkan didalam Al-Qur’An. Satu-Satunya cara untuk jelas seluruh ini adalah lewat hadist Nabi Muhammad. Beliau juga bersabda “Shalatlah layaknya engkau saksikan aku shalat.”
Apalagi Allah sendiri berulang kali tekankan pentingnya mengacu kepada hadist Nabi Muhammad S.A.W. Di dalam keliru satu ayat, Allah bersumpah demi diri-nya sendiri. 
“Bukan, Demi Allah, mereka bukan beriman, jika mereka menjadikanmu Muhammad, seorang hakim di dalam seluruh perselisihan antara mereka, &Amp; supaya bukan tersedia penolakan di di dalam hati mereka &Amp; mereka tunduk bersama dengan sebenar-sahih tunduk.” 
Menjadi ayat di atas menjelaskan bahwa sunnah Nabi Muhammad merupakan bagian berasal dari agama Islam. Allah S.W.T. juga berfirman didalam Al-Qur’An, bahwa apa pun yang Nabi Muhammad sabdakan, maka kami mesti menerimanya, dan apa pun perintah yang Nabi larang maka kami perlu meninggalkannya.
Sekarang mari kami bahas bagaimana caranya para ulama mempertahankan keaslian sunnah Nabi Muhammad.&Nbsp;
Pertama-Tama, bagi umat Islam, Nabi Muhammad adalah suri tauladan yang paling baik. Lebih-lebih Al-Qur’An berfirman didalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi:
“Sesungguhnya udah tersedia terhadap (Diri) Rasulullah tersebut suri teladan yang baik bagimu (Yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (Kedatangan) hari kiamat dan dia segudang menyebut Allah.” (Al-Ahzab:21)
Menjadi Al-Qu’Ran berfirman bahwa perbuatan dan pola hidup Nabi Muhammad S.A.W. merupakan suri tauladan yang baik, yang mesti diikuti bagi siapa saja yang beriman kepada Allah.&Nbsp;
Gara-gara itulah, kami selalu mencoba untuk meniru perbuatan dan sikap Nabi Muhammad S.A.W. Sunnahnabi diterapkan di dalam segala bidang kehidupan manusia.  Sunnah Nabi bukan sekedar untuk dihafal, tetapi juga untuk ditunaikan secara konkret. Misalnya, Nabi Muhammad S.A.W. bersabda:
“Jika bukan jadi sesuatu yang menyulitkan bagi umatku, aku akan menyuruh pemanfaatan siwak sebagai kewajiban atas umat Muslim.”&Nbsp;
Dan Nabi sendiri kerap kenakan siwak. Ia menggunakannya di pagi dan malam hari, sebelum keluar berasal dari tempat tinggal, sebelum shalat, dan sahabat-sahabatnya juga mengikuti perbuatan tersebut. Anak-Anak para sahabat Nabi juga mengikutinya. Dan cucu-cucu mereka juga mengikutinya, agar mereka pun kerap berkata: “Kita lihat Nabi Muhammad melaksanakan hal ini dan hal tersebut, dia memberitahu kepada kita supaya kita melakukannya.” Menjadi bersama dengan cara inilah Sunnah Nabi mampu tetap terjaga.
Sebagai contoh, saya ingat bahwa ayah saya, Gavin Green, mengajarkan saya perihal frase kecil yang berbunyi: R.A.U. yang merupakan akronim berasal dari “Return After Use” (Kembalikan sesudah dipakai). Ini signifikan ketika saya udah mengenakan sesuatu, maka saya wajib menaruh lagi benda itu di tempatnya. Dan dia bercerita bahwa kakek saya yang mengajarinya &Amp; barangkali kakek buyut saya yang mengajari kakek saya.
Menjadi sebenarnya ini adalah rantai penyampaian. Saya studi berasal dari ayah saya, yang bernama Gavin Green, yang studi berasal dari kakek saya, menjadi rantai ini membentang lebih berasal dari seratus year. Kalau kamu menghitungnya, ayah saya berumur 86 terhadap selagi ini, menjadi jikalau kamu menghitung lagi ke zaman kakek saya, maka jaraknya lebih berasal dari seratus th. Tersebut pas yang lumayan lama. Dan kecuali saya juga mengajarkan anak-anak saya terkait frase ini, sesudah itu mereka mengajarkannya ulang terhadap anak-anak mereka, maka inilah yang kami sebut sebagai rantai penyampaian.
Rantai penyampaian disebut “Isnad” di dalam istilah Islam. Dan isnad benar-benar vital didalam mempertahankan keaslian sabda Nabi Muhammad. Dan keliru satu sabda Nabi yang paling kuat, disampaikan lewat penyampaian Mutawatir, dan kami telah membahas definisi Mutawatir di dalam tulisan sebelumnya.
Sekarang kami ulang kepada pembahasan kami sebelumnya dimana berlimpah orang mulai mengarang-ngarang dan berbohong perihal ucapan Nabi.&Nbsp;&Nbsp;
Menjadi sebagian sahabat memutuskan untuk memeriksa orang-orang yang berkata bahwa dirinya mendengar Nabi mengucapkan hal ini dan tersebut. Mereka mengidamkan mengecek, berasal dari sahabat Nabi yang manakah orang tersebut mendengarnya? Sesudah itu setelahnya mereka akan pergi dan mengecek sahabat tersebut “Apakah kamu mengatakan ini? Apakah kamu percaya bahwa Nabi Muhammad S.A.W. mengatakannya?” Jikalau mereka memahami bahwa orang tersebut udah berbohong, maka mereka akan dan mengumumkannya di depan orang segudang: “Orang ini berbohong perihal Nabi, jangan yakin padanya, ia udah mengarang-ngarang sabda Nabi.” &Nbsp;
Dan Nabi Muhammad sendiri dulu bersabda “Siapa yang menciptakan kebohongan tentangku bersama sengaja, maka mereka akan masuk neraka.” Menjadi bukan tersedia seorangpun yang boleh berbohong dan mengarang-ngarang terkait sabda Nabi.
Menjadi para sahabat berkata: “Kita menghendaki menyadari siapa yang mengatakan hal tersebut. Darimana kau mendengar bahwa Nabi dulu mengucapkannya? Berikan kepada kita isnadnya.” Maka berkembanglah suatu pengetahuan perihal rantai periwayatan. Berasal dari sanalah para ulama mulai mempelajarinya dan tersedia lebih dari satu syarat yang mesti dipertimbangkan untuk mengesahkan sebuah hadist: “Apakah si Fulan memang sahih dulu bertemu bersama dengan si Fulan? Apakah dia percaya bersama ucapannya? Apakah dia jujur? Apakah dia punya ingatan yang baik? Apakah dia orang saleh?”  Mereka memeriksa pembawaan dan kepribadian tiap-tiap orang didalam rantai periwayatan.
Pasti saja ini sahih-sahih suatu pengetahuan yang benar-benar luas. Untuk studi pengetahuan isnad, seseorang perlu studi didalam jangka saat yang lama, agar mereka sanggup bersama tentu mengotentifikasi sabda Nabi Muhammad.

Dan berlimpah ulama sepanjang sejarah Islam yang udah mendedikasikan hidup mereka untuk mempelajari pengetahuan isnad. Para ulama itu udah menyusun kitab-kitab hadist yang otentik, misalnya layaknya Hadist Benar Al-Bukhari, Benar Al-Muslim, Sunnah Abu Dawud, Sunnah An-Nasa’I, dan sebagainya. Menjadi layaknya yang saya katakan, ini adalah pengetahuan yang benar-benar luas dan pengetahuan ini bertujuan untuk memastikan sunnah Nabi Muhammad S.A.W.

Jangan Lupa Share Lur !!!

Leave a Reply