Bukti Keaslian Al-Qur’an

Bagaimana caranya kami jelas Al-Qur’An merupakan kitab kudus yang bukan dulu berubah dan rusak? Ini merupakan pertanyaan yang terlalu signifikan gara-gara kecuali kami mengakui bahwa Al-Qur’An memang berasal berasal dari Allah, maka kami perlu dapat membuktikannyan Menjadi saya idamkan membahas bukti-bukti keaslian Al-Qur’An. Sebenarnya keaslian Al-Qur’An tersebut sendiri merupakan sebuah mukjizat, merupakan sebuah bukti bahwa Al-Qur’An berasal berasal dari Allah S.W.T.
Menjadi mari kami bahas terkait sejarah pengawetan ayat-ayat Al-Qur’An. Keliru satu cara mempertahankan keaslian Al-Qur’An adalah bersama dengan penulisan.
Dan saya menginginkan membacakan suatu ayat berasal dari Al-Qur’An:
“Sesungguhnya kita udah mewahyukan dhikr (Pengingat)”, dan sesungguhnya Kita akan mempertahankan keasliannya.” 
Inilah janji di dalam Al’Quran bahwa Allah akan mempertahankan keaslian Al-Qur’An. Keaslian Al-Qur’An adalah tidak benar satu mukjizat dan keliru satu bukti bahwa kitab ini berasal berasal dari Allah.&Nbsp;
Lebih-lebih hampir seluruh buku dan tulisan bersamaan berjalannya pas mengalami segudang perubahan dan rusaknya. Barangkali ini bukan amat kerap berjalan terhadap zaman modern, sebab adanya mesin cetak. Tapi di zaman antik, ketika lebih dari satu besar buku ditulis tangan oleh penulis, bersama begitu resiko adanya rusaknya amat besar. Tetapi di dalam kurun pas 1.400 th, Al-Qur’An terus utuh. 
Menjadi misalnya kamu punya Al-Qur’An di Indonesia dan kamu membandingkannya bersama dengan Al-Qur’An yang tersedia di di Rusia, apalagi jikalau kami membandingkannya bersama dengan Al-Qur’An yang paling antik, tertanggal hampir serupa bersama zaman Rasulullah S.A.W., maka kamu akan menemukan bahwa ayat-ayatnya tertulis persis mirip. Memang gaya penulisan dan lebih dari satu tanda bacanya kemungkinan berbeda, namun kata-katanya persis mirip
Sebenarnya ini adalah bukti yang terlalu kuat pada orang-orang yang menuduh bahwa Al-Qur’An sudah diubah seperti Bible. Tetapi bukan tersedia seorangpun yang mampu membuktikannya bersama bukti-bukti yang kuat. Dikarenakan tersedia tak terhitung naskah-naskah Al-Qur’An antik di segudang negara, misalnya manuskrip Tashkent, manuskrip Kairo, dan manuskrip Yaman.
Sekarang, mari kami bahas bagaimana caranya Al-Qur’An mampu terus utuh sampai sekarang. Pasti saja selama Rasulullah S.A.W. masih hidup, Al-Qur’An bukan dibukukan. Alasannya gara-gara selama Rasulullah S.A.W. masih hidup, masih tersedia sebagian ayat Al-Qur’An yang diwahyukan Allah. Namun telah jadi norma Rasulullah S.A.W. membaca Al-Qur’An berasal dari awal hingga akhir di tiap-tiap bulan Ramadhan bersama dengan malaikat Jibril (Gabriel). Apalagi di bulan Ramadan sebelum dia meninggal, Rasulullah S.A.W. membaca Al’Quran dua kali dengan malaikat Jibril. Al-Qur’An tersebut terdiri berasal dari Surat Al Fatihah sampai surah An Nas. Tapi terhadap era tersebut, Al-Qur’An bukan dulu ditulis didalam bentuk mushaf. Mereka menuliskan Al-Qur’An didalam potongan kulit binatang &Amp; pelepah kurma.
Tetapi, sesudah Rasulullah S.A.W. meninggal, berlangsung Perang Ridda yang merupakan perang melawan orang-orang yang murtad. Di dalam perang tersebut berlimpah orang yang sudah hafal Al-Qur’An (Hafiz) terbunuh didalam perang ini.
Kami akan membahas hal tersebut nanti terhadap seri berikutnya berkenaan “Metode penghafalan Al-Qur’An.” Menjadi segudang para hafiz yang tewas didalam pertempuran. Kejadian ini dikabarkan kepada Abu Bakar (Khalifah pertama dan tidak benar satu sahabat Rasulullah). Lebih dari satu orang berkata kepadanya: “Kenapa kau bukan membukukan Al-Qur’An untuk memastikan sehingga kami bukan mengalami penderitaan layaknya umat sebelum kami (Yahudi dan Kristen), sebab kami takut jikalau Hufaz tetap terbunuh, maka bisa saja besar keaslian Al-Qur’An bukan bisa dipertahankan.”
Menjadi tersedia perselisihan mengenai hal ini sebab Rasulullah S.A.W. sendiri belum dulu melakukannya. Tetapi sesudah saling berdiskusi, Umar, Abu Bakar, dan para sahabat pada akhirnya setuju. Menjadi mereka memanggil Zaid Ibn Tsabit dan para hafiz yang masih hidup untuk membukukan Al-Qur’An di dalam bentuk mushaf. Dan mereka sepakat bahwa terhadap tiap tiap ayat yang ditulis, minimal dua orang wajib setuju bersama dengan bunyi ayat tersebut dan letaknya.
Menjadi mushaf pertama ini diberikan kepada Abu Bakar. Ketika Abu Bakar meninggal, diberikan kepada Umar. Ketika Umar meninggal, dia memberikannya kepada Hafsa (Putri Umar yang merupakan tidak benar satu istri Rasulullah S.A.W.). Dan sesudah kematian Umar, Islam sudah tersebar ke berlimpah negara &Amp; tersedia begitu berlimpah orang jadi muslim. 
Terhadap jaman ini, lebih dari satu orang mulai berdebat berkenaan bacaan Al-Qur’An. Penyebabnya dikarenakan Rasulullah S.A.W. membolehkan Al-Qur’An dibaca didalam tujuh dialek bahasa Arab. Menjadi di jaman ini, lebih dari satu orang yang membacanya di dalam satu dialek mulai berdebat bersama dengan orang-orang yang membacanya didalam dialek lain. Mereka berkata: “Bacaan kita adalah bacaan yang tepat &Amp; bacaanmu yang tidak benar.” Mereka hampir bertengkar gara-gara kasus ini. 
Menjadi seorang utusan berkunjung kepada Utsman bin Affan: &Nbsp;“Ini kasus besar. Kami perlu menyatukan orang-orang didalam satu dialek saja.” Lantas Ustman berkata: “Baiklah, pendapatmu sahih. Kami akan menyatukan orang-orang di bawah pembacaan dialek Quraisy.” Dan Rasulullah sendiri membaca Al-Qur’An kenakan dialek Quraisy.
Menjadi Al-Qur’An disatukan didalam satu dialek saja. Dan siapa yang disuruh? Kembali-Ulang Zaid Ibn Tsabit. Mereka menyuruhnya dan sekali ulang berasal dari tiap tiap ayatnya, minimal dua orang wajib setuju berkaitan bunyi dan penempatan ayat itu. Mereka lantas membandingkan kompilasi mushaf yang baru ini bersama kompilasi mushaf yang pernah dulu diberikan kepada Abu Bakar, dan ternyata keduanya persis mirip.
Sesudah itu Ustman memerintahkan sehingga tiap tiap salinan yang udah dibuat orang lain supaya dimusnahkan bersama dengan cara dibakar. Menjadi tiap-tiap Al-Qur’An yang tersedia dibakar, terhitung juga mushaf yang diberikan terhadap Abu Bakar, sesudah itu ke Umar, dan paling akhir ke Hafsa.
Yang bukan dibakar sebatas Naskah Imam, suatu naskah yang tadi disusun oleh Ustman di bawah supervisi Zaid Ibn Tsabit. Dan berasal dari naskah ini, dibuatlah antara tujuh sampai sembilan Al-Qur’An. Lantas salinan ini didistribusikan di semua negeri Muslim terhadap selagi tersebut. Dan tiap-tiap salinan yang disebar tersebut persis serupa bersama Naskah Imam.
Dan sampai terhadap zaman sekarang, masih tersedia dua atau tiga berasal dari naskah orisinil yang disusun terhadap era Utsman Ibn Affan yang sekedar berusia lebih kurang 20 tahunan sesudah kematian Nabi Muhammad S.A.W. &Nbsp;
Dan layaknya yang saya katakan, seluruh Al-Qur’An yang beredar kala ini, baik tersebut di Maroko, Mesir, Rusia, Cina, Indonesia, atau Amerika, semuanya persis mirip. Lebih-lebih terkecuali kamu membandingkannya bersama naskah antik Al-Qur’An, bukan tersedia satu huruf pun yang berbeda.
Menjadi ini suatu mukjizat yang mengagumkan. Allah S.W.T. berfirman “Sesungguhnya Kita udah mewahyukan pengingat &Amp; Kita akan mempertahankan keasliannya.” Menjadi Allah S.W.T. sendiri yang mempertahankan keaslian Al’Quran.

Silahkan baca artikel berikutnya: Bukti Keaslian Al-Qur’An (Metode Penghafalan dan Konsep Mutawatir)

Jangan Lupa Share Lur !!!

Leave a Reply